{
"$type": "site.standard.document",
"bskyPostRef": {
"cid": "bafyreiest4766kc6ywwlnlvt42queoibmq3n5fpmyd6gutluykogktaon4",
"uri": "at://did:plc:eskrwciybv3pv2m4s34rimzk/app.bsky.feed.post/3mmbpl4rfsc22"
},
"coverImage": {
"$type": "blob",
"ref": {
"$link": "bafkreibnjr7ovlel2k7vl7js4mp5fjtwbduybjdzkttkkv42tq4gavgzo4"
},
"mimeType": "image/jpeg",
"size": 209996
},
"path": "/jogja-terkini/13671/akademikus-kritik-narasi-optimisme-pemerintah-jauh-dari-realitas-minim-empati",
"publishedAt": "2026-05-20T10:15:00.000Z",
"site": "https://jogja.jpnn.com",
"tags": [
"News",
"Jogja Terkini",
"harga kebutuhan pokok"
],
"textContent": "**jogja.jpnn.com** , YOGYAKARTA - Pemerintah dinilai terjebak dalam gelembung narasi optimisme yang tidak relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.700 per dolar AS dan lonjakan harga kebutuhan pokok, pemerintah justru dinilai lebih sibuk menjaga citra ketimbang merespons kesulitan nyata yang dihadapi publik.",
"title": "Akademikus Kritik Narasi Optimisme Pemerintah: Jauh dari Realitas, Minim Empati"
}