LOMBA DIARY INTERNASIONAL WOMEN'S DAY
Peta, Ruang Publik, dan Kepedulian terhadap Rasa Aman Perempuan
Saya sudah lama tidak kembali ke Longkali. Tapi anehnya, tempat itu masih sering muncul dalam pikiran saya, terutama ketika sedang melihat peta atau kebetulan melewati jalan yang lampunya mati.
Longkali itu kecil. Tidak banyak yang tahu namanya kalau tidak punya urusan di sana. Kehidupannya pelan, warganya saling kenal, dan malamnya benar-benar malam. Bukan seperti malam di Samarinda yang masih penuh cahaya dan suara kendaraan. Di sana, kalau lampu jalan tidak ada, gelapnya terasa betul.
Nah, dari situlah semuanya bermula.
Saya ingat pernah melewati salah satu jalan di Longkali waktu sudah lumayan malam. Gelap, sepi, dan yang ada di pikiran saya waktu itu cuma satu, “ah, lampunya mati lagi.” Selesai. Saya terus jalan. Tapi entah kenapa, beberapa waktu kemudian pikiran itu kembali lagi, dan kali ini disertai pertanyaan yang berbeda. Kalau saya perempuan, apakah saya akan merasa hal yang sama?
Apakah saya akan setenang itu?
Kemungkinan besar tidak.
Dan itu membuat saya diam cukup lama.
Soal rasa aman yang lebih dari sekadar fisik, saya akui itu hampir tidak pernah saya pikirkan. Paling jauh saya hanya khawatir jalanannya rusak atau ada lubang yang tidak kelihatan. Tapi perempuan yang melewati jalan yang persis sama, di jam yang sama, bisa punya pengalaman yang benar-benar berbeda. Dan itu bukan soal mereka terlalu khawatir atau tidak berani.
Ini yang lama tidak saya sadari.Dari situ saya mulai kepikiran soal peta. Bukan peta seperti yang biasa saya pakai dulu, yang fungsinya ya cuma cari jalan kalau tidak tahu arah. Setelah kenal OpenStreetMap dan mulai ikut-ikutan berkontribusi di sana, ternyata peta itu isinya jauh lebih banyak dari yang saya kira. Ada sekolah, puskesmas, mushola kecil di pojok gang, pasar yang tidak terlalu besar, jalan setapak yang sudah bertahun-tahun dipakai warga tapi tidak pernah masuk peta mana pun. Kalau semua itu dicatat dengan baik, gambaran tentang suatu tempat jadi jauh lebih hidup. Dan buat perempuan yang harus pulang sore atau kemalaman, informasi seperti itu nilainya beda. Bukan cuma soal jalan mana yang lebih pendek, tapi jalan mana yang lebih ada orangnya, di mana ada tempat umum kalau tiba-tiba butuh sesuatu, atau rute mana yang paling mudah diingat kalau mendadak bingung.
Di kota besar mungkin informasi semacam itu sudah cukup tersedia. Tapi di Longkali? Belum tentu. Dan justru karena wilayahnya tidak seramai kota, data yang lengkap di peta bisa jauh lebih berarti buat orang yang membutuhkannya. Satu titik di peta memang kelihatannya tidak seberapa. Tapi buat orang yang tidak hafal wilayah itu dan tiba-tiba butuh bantuan, titik itu bisa jadi sangat penting. Nama jalan yang diperbaiki, satu fasilitas yang ditambahkan, hal-hal kecil seperti itu kalau dikumpulkan pelan-pelan bisa berpengaruh lebih dari yang kita bayangkan.
Yang juga terus mengganjal di pikiran saya adalah cara orang bicara soal keamanan perempuan. Hampir selalu ujungnya ke perempuannya. Jangan pulang malam, jangan sendirian, hati-hati. Seolah yang perlu berubah adalah sikap mereka, bukan kondisi lingkungannya. Padahal yang bermasalah ya lingkungannya, penerangan yang kurang, fasilitas yang tidak memadai, informasi yang tidak tersedia. Saya sebagai laki-laki jelas tidak bisa benar-benar merasakan kekhawatiran itu dari dalam.
Tapi paling tidak saya bisa mulai dari pertanyaan-pertanyaan kecil. Jalan ini cukup terang tidak? Fasilitas di sekitar sini sudah masuk peta belum? Ada yang bisa saya tambahkan supaya orang lain tidak kebingungan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu pelan-pelan mengubah cara saya melihat lingkungan sekitar. OpenStreetMap jadi terasa seperti cara nyata untuk mewujudkan kepedulian, bukan hanya niat yang tinggal niat.
Peta memang tidak bisa menghidupkan lampu jalan yang mati. Tapi setidaknya ia bisa membantu orang lebih mengenal wilayahnya, tahu fasilitas apa yang ada, dan merasa sedikit lebih siap sebelum melangkah ke tempat yang belum benar-benar ia kenal.
Dari Longkali, saya belajar sesuatu yang kelihatannya sepele tapi selama ini tidak pernah betul-betul saya renungkan. Bahwa ruang publik yang aman itu bukan hanya urusan orang-orang yang merasa tidak aman di sana. Itu urusan kita semua. Termasuk saya.
Discussion in the ATmosphere