{
"$type": "site.standard.document",
"bskyPostRef": {
"cid": "bafyreibpf2vuhgjalpy4wejea57jjkmy42nqyswjjub5annbaoyfoybknu",
"uri": "at://did:plc:4tuge3k3comfj4nfvqnwkemn/app.bsky.feed.post/3mmpcsraqyoo2"
},
"path": "/user/Va1y/diary/408769",
"publishedAt": "2026-05-23T13:57:01.000Z",
"site": "https://www.openstreetmap.org",
"textContent": "# Dari Peta Saya Belajar Mendengar\n\nNama saya Aldy, seorang mahasiswa di Universitas Mulawarman, Samarinda. Kalau ditanya apa yang pertama kali terlintas di kepala saya saat mendengar kata “pemetaan”, mungkin jawabannya dulu cukup sederhana: peta, koordinat, jalan, dan titik lokasi. Saya mengira dunia pemetaan hanya berkaitan dengan teknologi, komputer, atau pekerjaan teknis yang rumit. Namun beberapa bulan terakhir, cara pandang saya berubah setelah mengenal OpenStreetMap dan mendengar lebih jauh tentang pemetaan partisipatif berbasis perempuan. Awalnya saya merasa topik ini cukup asing. Sebagai laki-laki, saya sempat berpikir bahwa pemetaan adalah hal yang netral dan semua orang pasti merasakan ruang publik dengan cara yang sama. Ternyata saya salah. Dari berbagai cerita dan diskusi kecil yang saya ikuti, saya mulai memahami bahwa perempuan memiliki pengalaman yang berbeda ketika berada di ruang publik. Ada rasa khawatir, rasa tidak aman, dan pertimbangan tertentu yang mungkin jarang disadari oleh laki-laki seperti saya. Saya tinggal di Samarinda, kota yang perkembangannya cukup cepat. Jalan baru terus dibangun, pusat keramaian semakin banyak, dan aktivitas masyarakat juga semakin padat. Namun di balik perkembangan itu, ternyata masih ada banyak hal kecil yang sering luput dari perhatian. Misalnya jalan yang minim penerangan, trotoar yang rusak, halte yang sepi, atau gang sempit yang membuat orang merasa tidak nyaman ketika melintas pada malam hari. Hal-hal seperti ini sebelumnya jarang saya pikirkan. Saya biasa pulang malam setelah kegiatan kampus tanpa terlalu khawatir. Tetapi suatu hari, saat berbincang dengan beberapa teman perempuan di kampus, saya mulai sadar bahwa pengalaman kami ternyata berbeda. Salah satu teman saya pernah bercerita bahwa ia lebih memilih memutar jalan lebih jauh hanya untuk menghindari area yang gelap dan sepi. Ada juga yang selalu mengabari keluarganya saat perjalanan pulang karena merasa kurang aman melewati beberapa ruas jalan tertentu. Cerita sederhana itu membuat saya berpikir cukup lama. Tempat yang menurut saya biasa saja ternyata bisa memberikan rasa takut bagi orang lain. Dari situ saya mulai memahami bahwa pemetaan tidak hanya tentang menggambar wilayah atau menambahkan nama jalan. Pemetaan juga bisa menjadi media untuk mendengar pengalaman masyarakat. Ketika perempuan dilibatkan dalam proses pemetaan, mereka dapat menyampaikan lokasi mana yang terasa aman, nyaman, atau justru rawan bagi mereka. Saya kemudian mencoba mengenal OpenStreetMap lebih jauh. Awalnya saya hanya melihat beberapa tutorial sederhana dan membaca pengalaman komunitas pemetaan. Jujur saja, pada awalnya saya merasa cukup bingung karena banyak istilah baru yang belum saya pahami. Tetapi semakin dipelajari, saya justru merasa tertarik. Saya mulai menyadari bahwa OpenStreetMap bukan hanya platform digital biasa. Di dalamnya ada semangat kolaborasi. Semua orang bisa ikut berkontribusi menambahkan informasi mengenai lingkungan sekitarnya. Hal yang paling menarik bagi saya adalah siapa pun dapat menyumbangkan data berdasarkan pengalaman dan pengamatan mereka sendiri. Dari situ saya membayangkan bahwa pemetaan partisipatif berbasis perempuan memiliki manfaat yang besar. Ketika perempuan ikut terlibat dalam pemetaan, informasi yang dihasilkan menjadi lebih lengkap dan lebih manusiawi. Misalnya bukan hanya menunjukkan lokasi jalan atau bangunan, tetapi juga menggambarkan kondisi sosial di suatu tempat. Menurut saya, pendekatan seperti ini penting, terutama di kota-kota berkembang seperti Samarinda. Kadang sebuah wilayah terlihat baik di atas peta, tetapi kenyataan di lapangan belum tentu demikian. Bisa saja jalannya ada, tetapi penerangannya minim. Bisa saja ada fasilitas umum, tetapi aksesnya kurang nyaman bagi perempuan. Saya jadi teringat ketika melewati salah satu kawasan di Samarinda pada malam hari. Jalannya cukup ramai saat siang, tetapi berubah sangat sepi ketika malam tiba. Lampu jalan juga tidak terlalu terang. Sebagai laki-laki, mungkin saya masih merasa biasa saja. Namun setelah mendengar berbagai cerita dari teman-teman perempuan, saya mulai memahami bahwa kondisi seperti itu bisa membuat seseorang merasa tidak aman. Pengalaman tersebut membuat saya berpikir bahwa data spasial seharusnya tidak hanya berbicara tentang lokasi, tetapi juga tentang pengalaman manusia di dalamnya. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam pemetaan menjadi sangat penting. Sebagai mahasiswa, saya merasa generasi muda sebenarnya memiliki peluang besar untuk ikut berkontribusi dalam kegiatan seperti ini. Saat ini teknologi sudah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda yang terbiasa menggunakan aplikasi peta, media sosial, dan perangkat digital lainnya. Dengan kemampuan tersebut, sebenarnya kita juga bisa ikut membantu membangun data yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Menurut saya, pemetaan partisipatif juga mengajarkan tentang kepedulian sosial. Kita jadi belajar melihat lingkungan bukan hanya dari sudut pandang pribadi, tetapi juga dari pengalaman orang lain. Hal sederhana seperti lampu jalan, trotoar, atau akses transportasi ternyata sangat berarti bagi sebagian orang. Selain itu, kegiatan seperti ini juga mengajarkan saya tentang pentingnya mendengar. Selama ini mungkin saya terlalu fokus melihat kota dari sisi fisik saja. Padahal ada banyak pengalaman masyarakat yang tidak terlihat di permukaan. Ketika perempuan diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka melalui pemetaan, maka data yang dihasilkan menjadi lebih inklusif. Saya percaya bahwa pemetaan yang baik bukan hanya akurat secara teknis, tetapi juga mampu mewakili kondisi nyata yang dirasakan masyarakat. Karena itu, partisipasi perempuan dalam OpenStreetMap dan kegiatan pemetaan lainnya perlu terus didukung. Walaupun saya bukan perempuan, saya merasa tetap bisa ikut mengambil peran dalam mendukung kegiatan seperti ini. Minimal dengan mulai lebih peka terhadap kondisi sekitar dan mendengarkan pengalaman orang lain. Saya juga percaya bahwa menciptakan ruang publik yang aman bukan hanya tanggung jawab satu kelompok saja, tetapi tanggung jawab bersama. Ke depan, saya ingin belajar lebih banyak tentang OpenStreetMap dan pemetaan partisipatif. Saya ingin mencoba ikut berkontribusi dalam menambahkan data-data sederhana yang mungkin berguna bagi masyarakat. Mungkin kontribusi saya tidak besar, tetapi saya percaya bahwa perubahan selalu dimulai dari langkah kecil. Melalui diary ini, saya belajar bahwa sebuah peta ternyata bisa menyimpan banyak cerita. Di balik titik koordinat dan garis jalan, ada pengalaman manusia yang perlu dipahami. Pemetaan partisipatif berbasis perempuan membuat saya sadar bahwa ruang publik tidak dirasakan sama oleh semua orang. Bagi saya pribadi, pengalaman mengenal tema ini memberikan pandangan baru tentang arti sebuah peta. Peta bukan hanya tentang lokasi, tetapi juga tentang rasa aman, kenyamanan, dan kepedulian terhadap sesama. Saya berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mengenal OpenStreetMap dan ikut berpartisipasi dalam pemetaan yang lebih inklusif. Karena pada akhirnya, kota yang baik bukan hanya kota yang berkembang secara fisik, tetapi juga kota yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua orang, termasuk perempuan. Dan dari semua hal yang saya pelajari, mungkin satu hal yang paling penting adalah ini: sebelum memetakan sebuah wilayah, kita perlu belajar mendengarkan cerita dari orang-orang yang hidup di dalamnya.",
"title": "Pemetaan partisipatif berbasis perempuan"
}