{
"$type": "site.standard.document",
"bskyPostRef": {
"cid": "bafyreic4povi5jih3ychixfu4ehfxvg3kx5kdnns7tvednmx63dznfeppe",
"uri": "at://did:plc:4tuge3k3comfj4nfvqnwkemn/app.bsky.feed.post/3mml5r5xtve72"
},
"coverImage": {
"$type": "blob",
"ref": {
"$link": "bafkreifah3n64s5g5cek6akzmufbp7yxujzblavisil7b5hu25lcszdcbu"
},
"mimeType": "image/jpeg",
"size": 242742
},
"path": "/user/NaufalFarras/diary/408777",
"publishedAt": "2026-05-23T16:35:02.000Z",
"site": "https://www.openstreetmap.org",
"tags": [
"Overpass Turbo",
"didokumentasikan di Wiki OSM",
"OSM Community"
],
"textContent": "Jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB. Beberapa perempuan telah berdiri di sebuah warung gelap di simpang Jalan Haur Pancuh, Dipatiukur. Mereka menantikan bus Metro Jabar Trans Koridor 4 menuju arah Leuwipanjang untuk berangkat bekerja. Pada waktu yang hampir bersamaan, belasan mahasiswa, sebagian besar perempuan, menunggu bus Metro Jabar Trans Koridor 5 di Perhentian SPBU Moh. Toha untuk berangkat kuliah di Jatinangor. Meskipun menjadi perhentian bus favorit bagi penumpang Metro Jabar Trans, tempat tersebut hanya beralaskan tanah, tanpa penerangan, dan tanpa kamera pengawas.\n\nKondisi seperti ini sudah lama terjadi pada prasarana transportasi umum di Kota Bandung. Tindakan kriminal dan pelecehan seksual terus membayangi calon penumpang transportasi umum yang sedang menunggu akibat minimnya kualitas prasarana. Bukan hanya prasarana untuk Metro Jabar Trans, melainkan semua moda transportasi darat di Kota Bandung (Trans Metro Bandung, Damri, angkot, bus AKAP, dan bus AKDP).\n\nSaya telah aktif memetakan fasilitas pemberhentian bus di Kota Bandung sejak dua tahun terakhir. Bersama dengan organisasi yang saya ikuti, Transport for Bandung, kami aktif memperbaharui data titik-titik perhentian di Kota Bandung untuk edukasi ke masyarakat dan advokasi ke pemangku kepentingan. Diary ini merupakan catatan yang ingin saya sampaikan dalam proyek kecil-kecilan ini.\n\n## Keberadaan bangunan halte\n\nKendati istilah “halte” dapat merujuk pada tempat penumpang menunggu dan menaiki transportasi umum, tidak peduli bentuk dan kelengkapan fasilitasnya, saya lebih nyaman menyebut istilah tersebut untuk tempat yang memiliki bangunan/shelter. Bukan tanpa alasan, operator dan regulator telah menggunakan istilah “halte” untuk tempat-tempat tanpa fasilitas yang memadai, hanya supaya kewajiban mereka terpenuhi.\n\nBangunan halte sebenarnya bukanlah indikator utama dalam menjamin keamanan perempuan di tempat menunggu bus. Tindakan kriminal tetap dapat terjadi di halte. Namun, adanya bangunan tempat berlindung dari kondisi cuaca, serta memberi kesan kepada orang lain di sekitar bahwa orang yang berada di halte memiliki tujuan dan tidak sekadar diam, membuat halte berperan penting dalam memberikan kesan aman secara psikologis. Bangunan halte memberi batasan ruang yang membatasi aktivitas menunggu transportasi umum dengan aktivitas lain di sekitarnya. Hal paling penting adalah fasilitas penerangan dan kamera pengawas lebih mungkin untuk ditempatkan ketika perhentian bus memiliki bangunan halte.\n\nPenandaan (tagging) bangunan halte dapat dilakukan dengan menambahkan penanda berikut ke objek perhentian bus:\n\n\n shelter=yes/no\n\n\nPenandaan dapat dilakukan dengan berbagai perangkat lunak seperti JOSM, iD editor, dan Vespucci. Templat penanda ini juga tersedia di aplikasi Street Complete, memungkinkan semua orang untuk dapat menambahkan informasi ini secara langsung di lapangan menggunakan ponsel.\n\nBerdasarkan data OpenStreetMap yang diambil melalui Overpass Turbo, saat ini terdapat 201 tempat pemberhentian bus di Kota Bandung yang dilengkapi dengan bangunan halte, sementara 627 tempat pemberhentian bus lainnya tidak memiliki halte atau tidak memiliki data keberadaannya. Berarti, kurang dari seperempat jumlah perhentian bus di Kota Bandung yang memiliki fasilitas bangunan halte\n\n## Penerangan\n\nPenerangan bukan aspek yang hanya penting dalam fasilitas transportasi umum. Semua aspek, seperti jalan, trotoar, dan taman, memerlukan penerangan yang cukup demi mewujudkan fasilitas umum responsif gender. Penerangan di perhentian bus dapat difasilitasi oleh fasilitas perhentian itu sendiri maupun dari lampu dari lingkungan sekitar yang masih dapat menjangkau perhentian. Perhentian bus yang terang memungkinkan calon penumpang untuk lebih sadar terhadap tempat dan situasi yang ditempatinya. Calon penumpang juga dapat terlihat dengan jelas oleh orang di sekitar perhentian, memungkinkan penumpang untuk mudah dikenali dan mendapat bantuan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.\n\nSama seperti penandaan untuk bangunan halte, penerangan di perhentian bus juga dilakukan di objek perhentian bus di OSM, menggunakan penanda berikut:\n\n\n lit=yes/no\n\n\nBerdasarkan pendataan yang dilakukan dan dimasukkan ke OpenStreetMap, terdapat 729 perhentian bus di Kota bandung tidak memiliki pencahayaan saat malam hari atau tidak memiliki data, serta hanya 99 perhentian yang tercatat memiliki penerangan. Angka ini cukup memprihatinkan karena sekitar 86,5% perhentian bus di Kota Bandung tidak dirancang untuk beroperasi saat malam hari.\n\n## Keberadaan penanda halte\n\nLayaknya bangunan halte, penanda suatu perhentian bus (rambu bus stop, flag, atau pole sederhana) penting untuk memberi informasi kepada calon penumpang tentang lokasi persis mereka harus menunggu. Perhentian bus telah melalui beberapa kriteria keamanan, seperti luas tempat, jarak dari simpang, dsb. Penumpang yang menunggu di tempat yang tidak seharusnya akan terdampak pada risiko keselamatan dan keamanan yang tidak seharusnya mereka dapatkan.\n\nPenanda halte dapat dipetakan menjadi satu dengan objek perhentian bus, dengan menambahkan penanda:\n\n\n pole=*\n\n\nSebelumnya, penanda hanya dapat diisi dengan isian “yes/no” untuk mengindikasikan keberadaannya. Namun, saya merasa calon penumpang tetap harus mengetahui jenis penanda supaya dapat mengatur ekspektasi tentang seperti apa penanda yang harus mereka cari untuk menunggu bus di tempat yang tepat. Oleh karena itu, saya membuat skema baru untuk memetakan jenis penanda yang telah didokumentasikan di Wiki OSM dan didiskusikan di OSM Community.\n\nBerdasarkan data OSM, terdapat 268 perhentian bus dan angkot yang tidak memiliki penanda apapun, meskipun berfungsi sebagai tempat bagi penumpang untuk menaiki bus dan angkot. Hal ini cukup menjadi perhatian karena penanda perhentian seharusnya menjadi hal dasar yang wajib ada. Namun pada kenyataannya, sebagian perhentian tidak memiliki penanda ini.\n\n## Bangku atau kursi\n\nPerhentian yang dilengkapi dengan kursi memungkinkan calon penumpang untuk menunggu dengan lebih nyaman dan tidak mudah lelah. Hal ini tentunya membuat calon penumpang lebih fokus terhadap situasi di sekitarnya. Penandaan kursi di perhentian di OSM dapat dilakukan dengan memberi penanda:\n\n\n bench=yes/no\n\n\nBerdasarkan data OSM, terdapat 177 perhentian yang memiliki kursi dan 651 lainnya yang tidak memiliki kursi atau tidak terdata keberadaannya.\n\n## Tempat sampah, ubin pemandu, kamera pengawas, dan fasilitas lainnya\n\nSelain fasilitas-fasilitas di atas, terdapat banyak fasilitas lainnya yang dapat mendukung kenyamanan calon penumpang. Tempat sampah dapat membantu bus dan halte lebih bersih jika dirawat rutin. Ubin pemandu membantu disabilitas penglihatan dalam memanfaatkan fasilitas umum ini. Kamera pengawas juga berperan vital dalam menjamin keamanan calon penumpang. Fasilitas-fasilitas tersebut dapat dipetakan ke objek perhentian bus dengan menambahkan:\n\n\n bin=yes/no\n tactile_paving=yes/no\n surveillance=yes/no\n\n\n## Penutup\n\nBerdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan, fasilitas perhentian bus dan angkot di Kota Bandung masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak komponen yang harus diperbaiki supaya fasilitas umum ini inklusif, termasuk kepada perempuan. Saat ini, terdapat program BRT Cekungan Bandung yang akan berperan penting dalam memperbaiki kualitas transportasi umum di Kawasan Metropolitan Cekungan Bandung, khususnya Kota Bandung. Program ini harus dikawal oleh seluruh lapisan masyarakat supaya tujuan program ini dapat terlaksana. Selain itu, data yang telah dipetakan di OSM harus terus diperbaharui, mengikuti perkembangan kondisi perhentian seiring berjalannya waktu.",
"title": "Kondisi Fasilitas Perhentian Bus di Kota Bandung, Sudahkah Menjadi Fasilitas Umum Responsif Gender?"
}