{
"$type": "site.standard.document",
"bskyPostRef": {
"cid": "bafyreiazujmnq5icf7qjrjwdltyodupqu6xickzi5faqhgzl5mztbgazmm",
"uri": "at://did:plc:4tuge3k3comfj4nfvqnwkemn/app.bsky.feed.post/3mmkcwzmgphl2"
},
"path": "/user/Firsty%20Sara%20Josephine/diary/408741",
"publishedAt": "2026-05-23T07:56:54.000Z",
"site": "https://www.openstreetmap.org",
"textContent": "Jam di layar ponsel menunjukkan pukul 06.55 pagi ketika Sara memarkir sepeda motornya di dekat gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman. Matahari baru naik sepenuhnya, tetapi area kampus sudah ramai oleh mahasiswa yang bergegas menuju kelas. Hari itu jadwal kuliahnya padat. Kelas pertama dimulai pukul 07.30 pagi dan praktikum terakhir baru selesai sekitar pukul 20.30 malam. Bagi mahasiswa FMIPA, jadwal seperti itu bukan hal aneh. Dalam sehari, mahasiswa bisa berpindah dari gedung kuliah ke laboratorium, lalu kembali lagi mengerjakan laporan praktikum sambil mengejar deadline. Namun buat sebagian mahasiswi, ada satu hal lain yang juga sering kepikiran selain tugas dan laporan praktikum: bagaimana caranya pulang dengan aman malam itu. Kampus yang Sama, Pengalaman yang Berbeda Semua mahasiswa sebenarnya melewati area kampus yang sama. Jalan yang sama, parkiran yang sama, dan gedung yang sama. Tapi rasa yang dirasakan tiap orang bisa berbeda, terutama ketika hari mulai malam. Ketika jam menunjukkan pukul 16.30 sore dan langit Samarinda mulai mendung, mahasiswa laki-laki mungkin hanya memikirkan apakah jalan sedang macet atau tidak. Sementara beberapa mahasiswi mulai mikir hal lain. Apakah jalan menuju halte cukup ramai? Apakah lampu di belakang laboratorium sudah menyala? Apakah lebih aman lewat jalur depan fakultas atau memutar lewat parkiran utama? Apakah ada teman yang bisa pulang bersama? Hal-hal seperti itu mungkin terdengar sepele, tapi nyata dirasakan hampir setiap hari. Di lingkungan kampus yang aktivitasnya padat sejak pagi hingga sore, rasa aman menjadi bagian penting dari kehidupan mahasiswa. Dan sayangnya, rasa aman sering kali tidak masuk dalam peta. Ketika Peta Hanya Menunjukkan Jalan Jika membuka aplikasi peta biasa, kita memang dapat menemukan lokasi FMIPA Unmul, ruang kelas, atau rute tercepat menuju gerbang kampus. Tetapi peta digital umumnya hanya menunjukkan posisi dan jarak. Peta tidak menunjukkan bahwa jalan di samping laboratorium terasa gelap ketika hujan turun. Peta tidak memberi tahu bahwa trotoar menuju halte sering tergenang setelah hujan. Peta juga tidak menunjukkan area mana yang tetap ramai ketika sore dan area mana yang mulai sepi. Padahal, informasi seperti itu sangat penting, terutama bagi perempuan. Menurut saya, di sinilah OpenStreetMap atau OSM jadi menarik. OpenStreetMap memungkinkan siapa saja menambahkan data berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Artinya, mahasiswa sendiri bisa ikut memetakan lingkungan kampus mereka. Bukan hanya gedung dan jalan. Tapi juga pengalaman sehari-hari mahasiswa di kampus. Membayangkan FMIPA Unmul yang Dipetakan dengan Perspektif Perempuan Bayangkan jika mahasiswa FMIPA Unmul bersama komunitas OpenStreetMap membuat pemetaan ruang aman di area kampus. Mahasiswa dapat menambahkan informasi seperti: 1. Lokasi lampu jalan yang berfungsi 2. Jalur pedestrian yang aman dilalui sore hari 3. Titik parkir yang ramai 4. Pos satpam kampus 5. Area yang minim penerangan 6. Area yang relatif aman untuk perempuan melintas sendirian 7. Tempat yang tetap aktif hingga malam 8. Jalur yang sering tergenang atau rusak Bahkan hal sederhana seperti keberadaan minimarket, musala, atau tempat duduk umum dapat membantu mahasiswa yang masih berada di kampus hingga petang. Bagi sebagian orang, data itu mungkin tampak biasa. Namun bagi mahasiswi yang masih harus berjalan menuju parkiran motor setelah praktikum selesai pukul 20.30 malam, informasi tersebut bisa memberikan rasa tenang. Karena rasa aman kadang datang dari hal sederhana. Misalnya tahu jalan mana yang lampunya masih terang atau area mana yang biasanya masih ramai dilewati orang. Dari Praktikum ke Peta Digital Mahasiswa FMIPA sebenarnya dekat dengan data. Setiap hari mereka belajar tentang pengamatan, pengukuran, analisis, dan ketelitian. Menariknya, semangat yang sama juga ada dalam OpenStreetMap. OSM bukan hanya soal teknologi, tetapi soal dokumentasi kondisi nyata. Mahasiswa Biologi bisa membantu memetakan ruang terbuka hijau. Mahasiswa Fisika dapat membantu pemetaan pencahayaan area kampus. Mahasiswa Kimia dan Laboratorium mungkin memahami area dengan aktivitas tinggi hingga sore. Mahasiswa Ilmu Komputer dapat membantu pengolahan data digital. Semua dapat berkontribusi. Dan ketika perempuan ikut menjadi bagian dari proses pemetaan, perspektif yang muncul menjadi lebih lengkap. Karena perempuan biasanya lebih peka terhadap detail-detail seperti itu. Mereka memperhatikan apakah suatu jalan cukup terang. Mereka sadar apakah sebuah area terasa aman ketika mulai sepi. Mereka mengingat tempat-tempat yang membuat mereka merasa nyaman ataupun tidak nyaman. Pengalaman seperti itu sangat berharga jika diterjemahkan menjadi data. Peta yang Tidak Sekadar Akurat Selama ini kita mungkin menganggap peta yang bagus cukup yang detail dan akurat. Padahal, peta yang baik juga harus manusiawi. Kampus bukan hanya kumpulan bangunan dan koordinat. Kampus adalah ruang hidup. Ada mahasiswa baru yang masih bingung mencari jalan pulang. Ada mahasiswi yang menunggu ojek online sendirian setelah praktikum. Ada mahasiswa yang berjalan cepat karena hujan turun dan jalan mulai sepi. Semua pengalaman itu sebenarnya bisa diterjemahkan menjadi informasi yang berguna. Melalui OpenStreetMap, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna peta, tetapi juga pembuat peta. Dan mungkin, itulah hal paling penting. Karena ketika mahasiswa ikut memetakan lingkungan mereka sendiri, mereka sedang membantu menciptakan ruang yang lebih aman untuk semua. Penutup Setiap hari, ribuan mahasiswa datang dan pulang dari kampus. Sebagian berangkat saat matahari baru terbit. Sebagian pulang ketika langit mulai gelap. Di antara jadwal kuliah pukul 07.30 pagi hingga praktikum selesai pukul 16.30 sore, ada banyak pengalaman kecil yang jarang dicatat. Tentang jalan yang terang. Tentang jalan yang terasa aman untuk dilalui sendirian. Tentang rasa tenang ketika pulang. OpenStreetMap memberi kesempatan agar pengalaman itu tidak hanya disimpan sendiri. Ia bisa dipetakan. Karena terkadang, sebuah kota atau kampus tidak menjadi aman hanya karena memiliki banyak gedung. Tetapi karena ada orang-orang yang peduli untuk menandai titik-titik kecil yang membantu orang lain merasa lebih aman. Mungkin memang perubahan tidak langsung besar. Tapi setidaknya, ada langkah kecil yang bisa dimulai dari satu titik di peta.",
"title": "Datang Sebelum Gelap, Pulang Sesudah Gelap Cerita Mahasiswa FMIPA Unmul dan Pentingnya Pemetaan Ruang Aman untuk Perempuan"
}