External Publication
Visit Post

Lomba Diary OSM International Women's Day

did:plc:4tuge3k3comfj4nfvqnwkemn May 23, 2026
Source

Pemetaan Partisipatif Berbasis Perempuan di OSM

Ketika Sebuah Desa Tidak Ada di Peta: Awal Perjalanan Menjadi Relawan Pemetaan

Saya adalah seorang mahasiswi yang lahir di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Desa ini ditandai dengan perkebunan kelapa sawit yang menutupi hampir seluruh wilayahnya, kawasan hutan yang masih dilestarikan, serta infrastruktur jalan yang sebagian besar masih terbuat dari batu. Jumlah fasilitas umum yang tersedia di wilayah ini relatif terbatas. Kondisi geografis tersebut menyulitkan identifikasi akses jalan secara jelas baik pada peta konvensional maupun digital. Komunitas pemukiman di desa ini juga sulit diamati dengan jelas melalui citra satelit, terutama karena tertutupi oleh lapisan awan yang cukup tebal. Selain itu, kepadatan penduduk di wilayah ini masih sangat rendah dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Infrastruktur jaringan telekomunikasi yang terbatas semakin menambah kesulitan dalam mendeteksi wilayah ini secara optimal melalui teknologi pemetaan berbasis satelit.

Ketika pertama kali diperkenalkan dengan OpenStreetMap (OSM) dalam mata kuliah Pengurangan Risiko Bencana, saya langsung mencoba mencari desa asal saya di platform tersebut. Saya berharap desa saya akan muncul dengan tingkat detail yang sama seperti Kota Samarinda yang padat penduduknya. Di peta digital, Kota Samarinda menampilkan bangunan dengan detail yang cukup baik, serta jaringan jalan yang mudah dikenali dan dilacak. Namun, kenyataan yang saya temui tidak sesuai dengan harapan awal saya. Saya hanya menemukan beberapa jalur yang fungsinya tidak dapat saya identifikasi apakah itu jalan atau bukan. Sementara itu, hanya nama desa saya yang terlihat jelas, tanpa detail spasial yang memadai. Ketika instruktur memberikan instruksi untuk mengedit OpenStreetMap dengan menambahkan titik, area, dan garis di wilayah Kota Samarinda, saya mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk memberikan penanda yang lebih jelas dan akurat untuk desa tempat saya tinggal.

Setelah dosen menjelaskan metode pemetaan partisipatif menggunakan aplikasi Mapillary dan OSM Tracker, dan setelah saya mengamati bahwa di kota-kota besar terdapat banyak relawan yang berkontribusi dalam kegiatan pemetaan kebanyakan di antaranya adalah laki-laki saya memutuskan untuk menyelenggarakan kegiatan pemetaan serupa saat kembali ke desa saya selama libur semester. Namun demikian, saya masih diliputi kekhawatiran mengenai masalah koneksi internet yang mungkin saya hadapi di sana. Oleh karena itu, saya bertanya langsung kepada dosen apakah aplikasi OSM Tracker memerlukan koneksi internet yang baik agar dapat beroperasi dengan lancar. Ia kemudian menjelaskan bahwa koneksi internet hanya diperlukan saat pertama kali membuka aplikasi, dan bahwa kinerja aplikasi juga didukung oleh perangkat dengan spesifikasi teknis yang memadai.

Keyakinan Bahwa Perempuan Bisa dan Mampu Terlibat Dalam Pemetaan

Setelah mengamati lebih lanjut bahwa sebagian besar orang yang terlibat dalam kegiatan pemetaan adalah laki-laki, sebuah pertanyaan kritis muncul di benak saya apakah karena dominasi laki-laki di bidang ini sehingga perempuan tidak mampu atau tidak diizinkan untuk berpartisipasi dalam pemetaan? Sebelum saya menemukan OpenStreetMap, saya sudah terbiasa melihat peta, menjelajahi berbagai jalan, dan memverifikasi alamat yang rencananya akan saya kunjungi menggunakan Google Maps. Secara pribadi, saya tidak setuju dengan anggapan umum bahwa perempuan tidak mampu membaca peta. Saya adalah seorang perempuan yang mampu membaca peta saat mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya bersama teman-teman saya. Kami akhirnya mencapai tujuan meskipun sesekali terjadi kesalahan kecil dalam menafsirkan peta. Namun, kesalahan-kesalahan tersebut tidak pernah menjadi hambatan yang signifikan untuk melanjutkan pencarian dan menemukan tempat-tempat yang ingin kami kunjungi.

Saya sangat yakin bahwa perempuan juga dapat berperan aktif dalam kegiatan pemetaan. Keyakinan ini didasarkan pada fakta bahwa perempuan memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang lingkungan sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering mengunjungi pasar, sekolah, tempat ibadah, dan puskesmas, serta melintasi jalan-jalan kecil yang mereka lewati setiap hari. Detail-detail kecil seperti ini mungkin sering terlewatkan oleh banyak orang, tetapi sebenarnya memiliki nilai yang signifikan untuk dimasukkan ke dalam peta. Dengan memasukkan elemen-elemen ini, suatu wilayah menjadi lebih mudah dikenali oleh masyarakat umum. Akibatnya, orang-orang dari luar wilayah tersebut dapat melihat bahwa masih ada komunitas yang tinggal dan melakukan aktivitas di wilayah tersebut.

Melalui proses belajar saya bersama OpenStreetMap, saya menyadari bahwa peta bukanlah entitas yang statis sebaliknya, peta terus berubah dan berkembang seiring dengan kontribusi komunitas. Semakin banyak orang yang ikut serta dalam kegiatan pemetaan, semakin lengkap dan akurat pula informasi geospasial yang tersedia di peta tersebut. Saya berharap semakin banyak perempuan yang memiliki keberanian dan kemauan untuk mencoba kegiatan pemetaan. Perempuan memiliki perspektif yang berbeda dalam mengamati dan memahami lingkungan sekitarnya, dan perspektif tersebut merupakan aset berharga dalam upaya memperbaiki peta. OpenStreetMap bukan sekadar tugas kuliah atau sekadar alat teknologi, tetapi juga sarana untuk membuat suatu wilayah lebih dikenal dan terlihat oleh banyak orang. Saya merasa sangat bahagia dan terinspirasi mengetahui bahwa orang biasa, termasuk saya sendiri, dapat berkontribusi dalam membuat peta menjadi lebih lengkap dan bermanfaat.

Pengalaman kecil yang saya alami ini kemudian menumbuhkan kesadaran baru dalam diri saya bahwa daerah-daerah terpencil pun tetap memiliki prioritas tinggi untuk dipetakan. Hingga saat ini, peta sering kali hanya dikaitkan dengan jalan-jalan utama atau gedung-gedung tinggi di kawasan perkotaan. Pada kenyataannya, peta seharusnya juga mencakup desa-desa kecil seperti tempat saya tinggal, meskipun saat ini desa tersebut belum terlihat dengan jelas di peta digital. Jalan-jalan kecil yang mengarah ke rumah penduduk, akses ke kebun, lokasi masjid, sekolah, toko-toko kecil, tempat berkumpulnya masyarakat, fasilitas rumah sakit, dan bahkan jembatan-jembatan kecil sebenarnya memainkan peran yang sangat penting untuk dimasukkan ke dalam peta. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan, elemen-elemen ini mungkin tampak biasa dan tidak istimewa. Namun, bagi masyarakat pedesaan, informasi spasial ini sangat membantu, terutama ketika orang luar mengunjungi desa atau selama keadaan darurat yang membutuhkan akses yang cepat dan akurat.

Ketika nanti saya kembali ke kampung halaman, saya sangat ingin mencoba mendokumentasikan beberapa jalan atau lokasi penting menggunakan aplikasi OSM Tracker dan Mapillary. Saya sangat menyadari bahwa koneksi internet di desa saya mungkin tidak selalu bagus atau stabil. Saya juga menyadari bahwa pengetahuan teknis saya tentang OpenStreetMap masih cukup terbatas. Meskipun demikian, saya ingin mencoba memulai proyek ini secara perlahan, tanpa terburu-buru. Tentu saja saya tidak akan bisa memetakan seluruh area desa sekaligus, tetapi saya yakin setidaknya saya bisa membantu menunjukkan bahwa desa saya memang benar-benar ada secara fisik dan dihuni oleh orang-orang yang menjalani kehidupan sehari-hari mereka.

Saya juga pernah secara langsung menyaksikan seseorang tersesat saat mencari alamat karena peta yang digunakannya tidak menampilkan jalan tersebut dengan jelas. Terkadang, ada ruas jalan yang secara fisik dapat dilalui baik oleh kendaraan maupun pejalan kaki, namun tidak tercantum di peta. Akibatnya, orang tersebut harus bertanya langsung kepada penduduk setempat untuk menemukan tujuannya. Menurut saya, situasi seperti ini telah membuat saya semakin menyadari betapa pentingnya pemetaan partisipatif, terutama untuk daerah-daerah yang jauh dari pusat-pusat perkotaan besar. Saya berharap di masa depan, lebih banyak orang dan terutama lebih banyak perempuan akan memiliki minat dan keberanian untuk belajar tentang pemetaan.

Menurut saya, perempuan juga mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam kegiatan ini. Perempuan tidak perlu takut untuk mencoba hal-hal baru hanya karena sebagian besar komunitas pemetaan saat ini terdiri dari laki-laki. Selama ada kemauan yang tulus untuk belajar dan berkontribusi, setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin, dapat berpartisipasi dalam upaya menciptakan peta yang lebih baik dan lebih inklusif. OpenStreetMap telah memberi saya pengalaman baru yang tak ternilai harganya: bahwa peta bukan sekadar gambar yang menunjukkan jalan dan bangunan, tetapi juga cerminan kehidupan masyarakat yang tinggal di suatu daerah. Melalui peta, orang lain dapat mengetahui akses jalan, ketersediaan fasilitas umum, dan bahkan keberadaan sebuah desa. Oleh karena itu, saya berharap desa-desa kecil seperti tempat saya tinggal dapat menjadi lebih terlihat dan lebih dikenal oleh dunia luar melalui upaya pemetaan kolektif dan berkelanjutan yang dilakukan oleh komunitas itu sendiri.

Penutup

Demikian catatan harian OSM saya. Semoga tulisan ini dapat menggugah pembaca terutama para perempuan di daerah terpencil untuk ikut berkontribusi dalam pemetaan, sekecil apa pun. Karena setiap titik, garis, dan area yang kita tambahkan di peta adalah bukti bahwa desa kita ada, dihuni, dan layak untuk dikenal.

Discussion in the ATmosphere

Loading comments...