{
"$type": "site.standard.document",
"bskyPostRef": {
"cid": "bafyreicmtos4mjn6epxqk73oxehec3regxaklgogkle6xctvtjw5r5mdte",
"uri": "at://did:plc:4tuge3k3comfj4nfvqnwkemn/app.bsky.feed.post/3mmhkbpqpqoc2"
},
"path": "/user/Reza%20Isnawati/diary/408706",
"publishedAt": "2026-05-22T04:22:25.000Z",
"site": "https://www.openstreetmap.org",
"textContent": "Pulang malam bukanlah pengalaman baru bagi saya. Kegiatan himpunan dan praktikum menuntut waktu yang tidak sedikit, tak jarang saya pulang ketika bulan sedang dalam puncaknya. Sebetulnya saya sendiri biasa saja, puji syukur tidak pernah mengalami hal-hal aneh saat pulang larut. Tapi kedua orang tua saya selalu meminta kabar jika mereka tahu saya belum dikos setelah maghrib.\n\n‘Masih dikampus?’ atau ‘Kapan pulang?’ atau ‘pulangnya jangan malem-malem.’\n\nSaya iyakan saja dan langsung mengabari ketika sudah sampai kos. Rasa kesal kadang ada, sudah capek fisik dan kadang capek emosi masih saja dirusuhi seperti itu. Tapi saya juga tahu, kalau mereka takut untuk saya. Anak tunggal, perempuan lagi.\n\nBeberapa perempuan mengalami pengalaman seolah mimpi buruk yang hidup, apalagi ketika malam. Gelap, sepi, sempit. Disitu kejahatan berkeliaran. Beberapa ditayangkan lewat berita, beberapa hanya terekam diingatan korban. Rasanya ironis keberuntungan yang saya alami sejauh ini sekedar tidak pernah diapa-apakan, padahal seharusnya hal itu menjadi standar.\n\nRasa takut itu aneh. Kadang tidak terlihat, tapi mengatur hampir semua keputusan kecil yang diambil perempuan saat berada di ruang publik. Memilih jalan yang lebih ramai walaupun memutar lebih jauh. Menggenggam kunci di tangan saat berjalan sendirian. Menghindari memakai earphone terlalu keras ketika pulang malam. Bahkan sekadar berpura-pura menelepon teman agar terlihat tidak sendirian.\n\nHal-hal kecil seperti itu mungkin tidak pernah terpikirkan oleh sebagian orang. Tetapi bagi banyak perempuan, kewaspadaan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.\n\nSaya sendiri baru benar-benar menyadari hal itu ketika mulai lebih memperhatikan kota. Sebagai seseorang yang tertarik dengan pemetaan dan geospasial, saya sering melihat jalan sebagai garis, bangunan sebagai poligon, dan fasilitas sebagai titik-titik data di atas peta. Semuanya terlihat rapi dan sederhana. Namun ketika dijalani langsung, kota ternyata jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat di layar.\n\nAda jalan yang terlihat besar dan baik di peta, tetapi terasa menakutkan saat malam karena terlalu sepi. Ada gang yang secara teknis bisa dilalui, tetapi minim penerangan dan tertutup bangunan tinggi di kanan kirinya. Ada halte yang tampak normal pada siang hari, tetapi terasa tidak nyaman ketika malam datang dan aktivitas sekitar mulai menghilang.\n\nPeta sering kali berhasil menunjukkan di mana sebuah tempat berada, tetapi belum tentu berhasil menunjukkan bagaimana rasanya berada di tempat itu.\n\nKalau dilihat secara mata telanjang, kita hanya dapat melihat bagaimana secara fisik kondisi sebuah fasilitas. Seberapa lebar jalan, adakah halte disana, bagaimana kondisi trotoarnya. Tapi tidak pernah kita melihat seberapa aman sebuah fasilitas. Aman dari apa? Copet, jambret, kekerasan seksual baik verbal ataupun fisik, dan kasus kriminal-kriminal lain yang saya tidak bisa sebutkan satu persatu.\n\nKejahatan itu tidak datang tiba-tiba. Pelaku akan memilih kondisi yang mendukung aksinya. Mereka tidak akan memilih ruang publik aktif dengan CCTV yang mengawasi. Mereka akan memilih gang sempit dengan lampu jalan yang redup. Kewaspadaan memang berlaku untuk semua orang dan semua gender, tapi untuk perempuan sendiri, syarat aman meningkat dua kali lipat karena oknum-oknum yang menilai mereka lebih lemah.\n\nJalan mungkin telihat ‘baik’ di citra satelit, tapi tidak menjanjikan rasa aman ketika dilalui sendirian pada malam hari.\n\nCitra satelit dapat memperlihatkan bentuk kota dengan sangat detail. Kita bisa melihat jaringan jalan, kepadatan bangunan, bahkan posisi kendaraan dari atas. Tetapi rasa aman tidak pernah benar-benar terlihat dari udara.\n\nSebuah gang kecil mungkin hanya tampak seperti garis tipis di antara bangunan. Padahal di lapangan, gang itu bisa terasa sangat berbeda tergantung siapa yang melewatinya dan kapan waktu melewatinya. Bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tetapi bagi perempuan yang berjalan sendirian pada malam hari, ruang sempit dan minim penerangan dapat terasa jauh lebih mengintimidasi.\n\nKarena itu saya merasa bahwa data spasial tidak cukup hanya dibangun dari objek fisik. Kota juga perlu dipahami melalui pengalaman manusia yang hidup di dalamnya.\n\nLalu bagaimana kita dapat memperingati siapapun yang akan melewati sebuah jalan rawan?\n\nSaya rasa jawabannya ada pada informasi lokal. Sayangnya, informasi seperti ini sering kali tidak tercatat secara formal. Tidak semua orang tahu jalan mana yang rawan, halte mana yang sepi, atau area mana yang lebih aman untuk dilewati pada malam hari. Informasi seperti itu biasanya hanya menyebar dari mulut ke mulut, antar teman, atau antar keluarga.\n\nPadahal jika informasi lokal seperti ini dapat dikumpulkan dan dipetakan dengan baik, saya rasa banyak orang bisa merasa lebih terbantu saat bergerak di dalam kota. Informasi adalah barang yang sangat berharga. Seberapa banyak kasus yang dapat kita cegah jika korban mendapat informasi kalau jalan didepannya sempit dan minim penerangan dengan trotoar yang rusak. Informasi ini tentu didapatkan dari orang-orang lokal yang aktif berpartisipasi lewat pemetaan, terutama perempuan.\n\nDi sinilah saya mulai melihat pentingnya OpenStreetMap dan pemetaan partisipatif. OpenStreetMap bukan hanya peta digital biasa, tetapi ruang di mana masyarakat dapat ikut menambahkan informasi berdasarkan apa yang benar-benar mereka lihat dan alami.\n\nKontribusi kecil seperti menambahkan trotoar, lampu jalan, halte, akses pejalan kaki, atau fasilitas umum mungkin terdengar sederhana. Namun bagi sebagian orang, informasi tersebut dapat membantu menentukan rute mana yang terasa lebih aman untuk dilalui.\n\nSaya juga merasa bahwa perempuan memiliki perspektif yang penting dalam proses pemetaan. Mereka mengalami kota dengan pengalaman yang berbeda. Ada rasa was-was yang kadang tidak terlihat, tetapi sangat memengaruhi cara seseorang bergerak di ruang publik.\n\nKarena itu, ketika lebih banyak perempuan ikut memetakan kota, maka kota tidak hanya dipahami sebagai kumpulan jalan dan bangunan, tetapi juga sebagai ruang hidup yang harus aman dan nyaman untuk semua orang.\n\nMungkin OpenStreetMap tidak bisa langsung menghilangkan kejahatan di ruang publik. Namun setidaknya, pemetaan dapat membantu membuat kota menjadi lebih terlihat, lebih dipahami, dan lebih sadar terhadap pengalaman orang-orang yang selama ini sering diabaikan.\n\nSaya percaya bahwa peta bukan hanya tentang menunjukkan lokasi. Peta juga tentang menunjukkan pengalaman manusia di dalamnya. Tentang siapa yang merasa aman, siapa yang merasa takut, dan siapa yang selama ini belum benar-benar didengar.\n\nDan mungkin, dari kontribusi kecil yang dilakukan banyak orang, kota dapat perlahan menjadi tempat yang lebih aman untuk pulang.",
"title": "Perempuan dan Rasa Aman di Kota: Membaca Ruang Publik Melalui OpenStreetMap"
}