External Publication
Visit Post

Sudah Amankah Fasilitas Umum Perkotaan untuk Manusia, Khususnya Perempuan?

did:plc:4tuge3k3comfj4nfvqnwkemn May 9, 2026
Source

Hari Perempuan Internasional diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pada peringatan ini pula, banyak hal yang perlu direfleksikan terkait pemenuhan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Salah satunya, apakah fasilitas umum di perkotaan sudah ramah manusia, khususnya perempuan?

Sejak Maret 2026, saya mengikuti kampanye Jalanin Aja Dulu (JAD) yang diselenggarakan oleh lakunakota di Cekungan Bandung. Pada kampanye tersebut, partisipan didorong untuk berjalan kaki sejauh 2,5 km setiap harinya untuk melatih budaya mobilitas dengan berjalan kaki. Saya memanfaatkan momen ini untuk memetakan dan menilai kondisi infrastruktur pejalan kaki yang saya lalui ke OpenStreetMap (OSM).

Metode

Pemetaan saya lakukan sambil berjalan kaki dengan pace antara 9’00” (berarti 9 menit per kilometer) hingga 20’00”, rentang pace yang ditetapkan dalam kampanye JAD. Saya menggunakan aplikasi StreetComplete untuk mendata banyak objek, seperti keberadaan trotoar, penerangan, menambahkan fasilitas umum, dan menambahkan catatan untuk hal-hal yang kompleks. Setelah itu, saya berusaha merapikan pemetaan yang saya lakukan sebelumnya menggunakan desktop iD Editor.

Saya biasanya berjalan kaki di sekitar Jalan Dago, Kota Bandung. Terkadang saya juga berjalan kaki di tempat lain yang familiar, seperti Kota Baru Parahyangan dan Jalan Buah Batu. Tak jarang pula saya memutuskan untuk berjalan kaki di tempat-tempat yang belum pernah saya lalui, seperti Baros di Cimahi atau gang-gang sempit di tengah Kota Bandung untuk mendapatkan sensasi tersendiri. Selain itu, sebagian sesi berjalan kaki saya lakukan antara pukul 6 sore hingga 12 malam, menambah relevansi data yang saya dapat dengan ruang aman perempuan di jalan.

Keberadaan trotoar

Trotoar di OpenStreetMap dapat dipetakan menjadi satu dengan jalan utamanya maupun secara terpisah. Menurut OpenStreetMap Wiki, trotoar sebaiknya dipetakan sebagai Way (sebutan untuk fitur garis di OSM) yang terpisah. Hal ini dilakukan supaya routing untuk pejalan kaki lebih akurat. Meskipun demikian, saya menganggap trotoar dapat dipetakan menjadi satu dengan jalan utamanya apabila jalan yang dimaksud berupa jalan sempit, gang, atau tempat di mana trotoar nyaris tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Secara umum, trotoar di OSM yang dipetakan terpisah menggunakan tag sebagai berikut:

highway=footway
footway=sidewalk

Sementara itu, tag di bawah dapat disematkan ke jalan utama yang didukung oleh keberadaan trotoar:

sidewalk:left=yes/no/separate
sidewalk:right=yes/no/separate

isian yes/no/separate tergantung pada apakah trotoar ada, tidak ada, ataupun dipetakan sebagai way yang terpisah.

Dalam aplikasi StreetComplete, fitur Way hanya dapat diubah propertinya, sementara penambahan atau perubahan geometri tidak dapat dilakukan. Untuk memetakan trotoar yang ada di samping jalan, pengguna aplikasi dapat memilih kelompok “Pavement” yang ada di kanan atas layar. Kemudian, pengguna dapat menekan jalan yang ingin ditambahkan informasi trotoar untuk tiap sisinya. Terdapat tiga pilihan, yakni:

  1. pavement, klik ini jika terdapat trotoar di sisi jalan yang dimaksud
  2. no pavement, klik ini jika tidak terdapat trotoar di sisi jalan yang dimaksud
  3. pavement displayed separately on map, klik ini jika trotoar telah terpetakan sebagai Way terpisah.

StreetComplete akan secara otomatis menambahkan tag sidewalk:left atau sidewalk:right setelah pengguna menambahkan informasi tersebut. Apabila trotoar dirasa lebih cocok untuk dipetakan terpisah, tetapi belum ada Way terpisah, saya biasanya menambahkan catatan di titik tersebut lalu menambahkannya melalui iD editor.

Untuk kasus jalanan di Cekungan Bandung, trotoar yang fungsional umumnya hanya ditemui di pusat kota saja, seperti Jalan Dago, Riau, Asia Afrika. Padahal, daerah suburban (misalnya Bojongsoang, Cisangkan, dan Cileunyi) juga sangat membutuhkan trotoar. Masyarakat yang ingin berangkat beraktivitas dari permukiman menuju perhentian bus harus berjalan kaki beriringan dengan kendaraan bermotor. Hal ini tentu saya berbahaya, baik dari segi keselamatan maupun keamanan. Harapan saya, data keberadaan dan ketiadaan trotoar ini dapat berguna bagi pengguna data OSM dalam bernavigasi dan pemangku kepentingan dalam merencanakan infrastruktur.

Pencahayaan

Aspek pencahayaan juga tak dapat dikesampingkan jika membicarakan ruang aman bagi perempuan di fasilitas umum. Trotoar dan jalan yang tidak memiliki pencahayaan dapat membahayakan ketika ada lubang maupun manhole yang dibiarkan terbuka. Selain itu, pejalan kaki juga rawan tidak terlihat oleh kendaraan bermotor yang jalurnya berpotongan dengan trotoar. Jalan dan trotoar yang dilengkapi dengan penerangan juga dapat mengurangi potensi kejahatan, meskipun tidak selalu.

OSM mampu menyimpan informasi pencahayaan di jalan dan trotoar dengan tag:

lit=(yes)/(no)/(24/7)/(automatic)

Pada aplikasi StreetComplete, pengguna dapat memilih apakah suatu jalan atau trotoar dilengkapi dengan pencahayaan. Terdapat empat opsi, yakni iya, tidak, diterangi hanya ketika dilewati orang, atau diterangi selama 24 jam. Ketika pengguna memilih salah satunya, StreetComplete akan secara otomatis menambahkan tag lit=* ke objek Way.

Penyeberangan jalan

Terdapat banyak sekali karakteristik sebuah penyeberangan yang dapat dipetakan melalui StreetComplete. Pengguna aplikasi dapat secara langsung menambahkan:

  1. Keberadaan marka dalam sebuah penyeberangan
  2. Keberadaan “crossing island” di antara dua jalur kendaraan
  3. Keberadaan aspek lampu lalu lintas yang mengindikasikan izin bagi penyeberang jalan untuk menyeberang
  4. Keberadaan tombol untuk mengatur aspek lampu lalu lintas
  5. Keberadaan alarm untuk mengindikasikan adanya penyeberang jalan
  6. Keberadaan pemandu untuk penyeberang jalan tunanetra
  7. Kelandaian jalur penyeberangan terhadap trotoar di kedua ujungnya

Informasi-informasi ini tidak hanya berguna bagi perempuan, melainkan berguna pula bagi penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, dan kaum rentan lainnya.

Point-of-interest lainnya

StreetComplete juga memungkinkan pengguna yang melakukan survei langsung di lapangan untuk menambahkan tempat atau objek. Terpetakannya point-of-interest dapat membantu pengguna jalan dalam menemukan patokan-patokan tempat yang dilalui. Dengan demikian, pengguna jalan dapat menentukan potensi risiko maupun tempat-tempat yang dapat disinggahi ketika dalam kondisi di luar rencana.

Selain tempat penting untuk navigasi, POI penting yang dapat membantu mobilitas masyarakat, antara lain bangku, titik-titik penerangan jalan umum, ATM, minimarket, dan toilet umum. Keberadaan tempat-tempat lainnya, restoran, kafe, dan sekolah juga secara tidak langsung berperan dalam memudahkan perencanaan perjalanan masyarakat. Misalnya, jika diketahui bahwa tempat yang dituju tidak memiliki trotoar atau penerangan yang baik, seseorang dapat merencanakan kembali rencananya demi mempertimbangkan keamanan dan keselamatannya.

Selain menambahkan maupun mengubah objek, aktivitas berjalan kaki yang saya lakukan juga membantu “mapper” lainnya di OSM. Dalam kampanye JAD, digunakan Strava untuk menyimpan jejak aktivitas berjalan kaki. Hal ini otomatis terunggah ke sistem “Strava Heatmap” yang membantu kontributor OSM dalam menentukan keberadaan dan geometri jalan.

Penutup

Hingga diary ini ditulis, saya telah berjalan setidaknya 120 km di wilayah Cekungan Bandung dalam kampanye JAD. Berdasarkan pengamatan langsung yang saya unggah ke OSM, menurut saya kondisi fasilitas umum di Cekungan Bandung masih jauh dari kata “inklusif”. Inklusif dalam artian mampu digunakan dengan baik oleh semua golongan masyarakat, termasuk perempuan. Kondisi trotoar yang sekadar ada dan sebagian besar tidak dilengkapi pencahayaan serta fasilitas penyeberangan banyak yang tidak memiliki aspek lampu lalu lintas tentunya masih membahayakan.

Discussion in the ATmosphere

Loading comments...